Aimee Saras: The Lady Who Swings

SarasSaras memberikan kesan baru pada musik genre jazz swing. Ia yakin bahwa ia harus menampilkan musik yang berdasarkan karakter dan kesukaannya.

“Saya tidak merasa membuat musik itu adalah suatu persaingan. Ketika membuat lagu, saya menulis saja dan menyerahkan produksi musik sepenuhnya ke produser saya, Aghi Narottama, yang sudah tahu karakter saya. Ini karakter saya, dan menurut saya ini menjadi salah satu faktor untuk bisa menghadapi persaingan,” ujarnya setelah peluncuran single pertamanya, “To New York”, di Black Studio, Panglima Polim, Jakarta Selatan, pada 17 Februari lalu.

Sebenarnya Saras sudah pernah tampil di Java Jazz 2013 dengan konsep Aimee Saras Goes Swing, membawakan jazz swing yang berhasil menarik perhatian para pengunjung untuk menonton aksi panggung yang atraktif dan kekuatan vokalnya. Momen tersebut juga menjadi penampilan ‘resmi’ dirinya sebagai penyanyi jazz swing, meskipun belum memiliki materi sendiri.

Sekitar tahun 2013, Saras mulai serius untuk menjalani mimpinya sebagai penyanyi, dan dalam waktu sekitar enam bulan akhirnya Saras dan timnya memberanikan diri untuk meluncurkan single pertama sekaligus memperkenalkan label Rooftop Sound, di mana Aghi termasuk sebagai salah satu pemiliknya. Aghi mengakui bahwa ia membebaskan Saras untuk mengikuti jalur musik yang ia cintai dan Aghi pun ikut terjun untuk membantunya.

“Kami biasanya mengerjakan music scoring untuk film, dan kini Aimee Saras adalah proyek perdana kami. Di sini kami sengaja memperkenalkan satu single dulu, yang sudah bisa dibeli di iTunes seharga Rp 5000. Lagu-lagu akan kami keluarkan secara bertahap, mungkin setiap dua minggu sekali. Nanti pada akhirnya baru album akan kami keluarkan,” jelas Aghi saat konferensi pers yang turut diramaikan oleh Joko Anwar sebagai sahabat sekaligus menunjukkan penampilan perdananya sebagai MC acara.

Mengenai “To New York” sebagai lagu perkenalan, Saras menjelaskan maksudnya. “Single ini seperti surat cinta saya kepada kota yang telah memberikan jasa besar pada hidup saya. Tumbuh dewasa, menekuni ilmu teater hingga menemukan jalan hidup sebagai pekerja seni.

Inti dari lagu ini sendiri adalah pesan bahwa jangan takut untuk mengambil kesempatan dan jatuh cinta lagi,” tambah perempuan alumni City University of New York, Hunter College dan berbagai workshop teater pada Marymount Manhattan College ini.

Saat ini Saras aktif memandu acara The Lady Who Swings dalam konsep storytelling yang menarik di radio Hard Rock FM Jakarta dan menurutnya, albumnya nanti juga akan mengalir seperti storytelling. Lalu apakah bernyanyi menjadi puncak dalam berkarier? Ia menjawab dengan lantang, “This is my biggest obsession!

Musik sudah di dalam darah daging saya, tetapi memang memulai dari teater musikal karena penjiwaannya dan sangat ekspresif. Akhirnya I found my ‘home’, blissful for being able to sing the kind of music I love, but my heart will always be for musical theater. Jika memang ada momen yang pas dan produksi yang tepat, akan kunodai lagi panggung teater musikalnya!”