beegeesfanclub

Inspirasi Musik Masa Kini Yang Diadopsi dari The Bee Gees

Bagi generasi milenial, mungkin tidak banyak yang mengenal grup band legendaris yang berjaya di jaman dulu. Namun sebenarnya karakter musik dan inspirasi yang dibawa bisa dilihat pada beberapa musik dan musisi Indonesia. Seperti grup band legendaris asal Australia The Bee Gees misalnya.

Berbicara musik luar negeri yang memberikan pengaruh pada musisi dalam negeri, biasanya yang disebutkan adalah The Beatles atau Queen. Namun jauh sebelum itu, The Bee Gees sudah lebih dulu populer dan sedikit banyak menjadi inspirasi dari musisi-musisi terkenal tersebut, bahkan beberapa musisi terkenal di Indonesia.

Musik Masa Kini yang Tak Lepas dari Pengaruh The Bee Gees

Terbentuk pada tahun 1958, The Bee Gees awal kemunculannya mengusung genre musik rock, soft rock dan disco. Bee Gees pernah mengalami dua kali masa kejayaan sejak pertama kali debut sebagai musisi.

Masa kejayaan pertamanya diperoleh pada akhir tahun 60an dan sekitar akhir tahun 70-an ketika genre disko menjadi genre musik andalan yang diusung.

Pada saat itu, kepopuleran The Bee Gees bahkan sudah disejajarkan dengan musisi-musisi lain yang sudah lebih dulu berkarir dalam dunia musik.

Kepopuleran dan pengaruh musik The Bee Gees pun akhirnya sampai ke Indonesia. Kala itu bahkan hingga kini, The Bee Gees masih menjadi inspirasi bagi musisi masa kini.

Beberapa musisi masa kini bahkan juga menjadikan The Bee Gees sebagai inspirasi musiknya, seperti yang terlihat pada beberapa inspirasi musik masa kini berikut yang juga diadopsi dari musik The Bee Gees.

1. Pop Disco Funk

pop disco funk

Musik The Bee Gees pertama yang banyak diadopsi menjadi musik masa kini yang cukup digemari adalah pop disco funk. Alunan music pop disco funk yang populer di akhir tahun 1970-an membawa nuansa musik baru yang lebih menyenangkan sehingga banyak pula musisi masa kini yang menjadikannya inspirasi.

2. Techno Pop

Musik Techno Pop

Musik The Bee Gess selalu mengikuti trend musik yang ada saat itu. Salah satunya adalah techno pop. Genre musik ini pun kemudian tak hanya populer di tempat kelahiran The Bee Gees saja, tapi juga di Indonesia. Terbukti dengan beberapa musisi Indonesia yang kemudian mengadopsi genre ini dan menjadikannya inspirasi pada musiknya.

3. Harmonisasi dan Notasi Nada

notasi nada

Tak hanya pada genre, inspirasi musik The Bee Gees yang juga berpengaruh dan memberikan inspirasi pada musisi masa kini lainnya adalah harmoninasi dan notasi nadanya. Tak ragu-ragu, beberapa musisi Indonesia bahkan juga mengadopsi aspek musik ini pada beberapa lagu yang dibuatnya, seperti pada band Armada misalnya. Notasi lagu ‘Yang Terindah’ pun sedikit banyak diadopsi dari The Bee Gees ‘Words’.

Meski tidak sepopuler The Beatles, The Bee Gees ternyata juga memberikan dampak tersendiri bagi musisi muda masa kini. Terbukti dengan beberapa inspirasi musik masa kini yang ternyata tak lepas dari hasil adopsi para musisi tersebut dari musik The Bee Gees.

Musisi Indonesia yang Mirip dan Terpengaruh oleh The Bee Gees

Musisi masa kini tentu tak bisa dilepaskan dari peran musisi pada masa sebelumnya. Sedikit atau banyak, para musisi masa kini akan mengadopsi beberapa aspek musik dan gaya bermain musik yang mirip dengan musisi pada masa lalu. Salah satu contohnya adalah The Bee Gees.

Band asal Asutralia yang pertama kali mengeluarkan karya pada tahun 1958 ini memang cenderung mengangkat genre yang sedang populer. Tidak mengusung genre tertentu, The Bee Gees selalu mengikuti trend musik yang sedang ada saat itu. Meskipun demikian The Bee Gees tak pernah kehilangan identitas dan ciri khasnya.

Beberapa Musisi Indonesia yang Mirip The Bee Gees

Saat awal kemunculannya di instruksi musik, The Bee Gees populer dengan lagu-lagunya yang bergenre soft rock, rock dan disco. Meskipun terkesan mengusung musik yang mainstream, The Bee Gees pun pernah mencapai puncak kejayaannya bahkan hingga dua kali.

Kejayaan pertamanya diperoleh ketika mengeluarkan lagu bergender disco. Kala itu penggemar musik dibuat jatuh cinta dengan karya disco The Bee Gees.

The Bee Gees juga tak bisa diabaikan dari sejarah perkembangan musik rock masa kini. Bahkan jika dilihat, band-band masa kini pun banyak yang mengusung konsep mirip dengan The Bee Gees. Band apa saja? Berikut beberapa diantaranya.

1. Trio Bimbo

Trio Bimbo

Musisi Indonesia pertama yang mirip dengan The Bee Gees adalah Trio Bimbo. Kemiripan musisi asal Bandung ini terletak pada harmonisasinya yang begitu mirip dengan The Bee Gees.

Bahkan secara kebetulan, ketiga personel Bimbo pun masih memiliki hubungan saudara seperti The Bee Gees yang terbentuk dari Gibb bersaudara.

2. Fariz RM

Fariz RM

Meskipun bukan band, musisi Indonesia satu ini juga banyak terpengaruh dari musik The Bee Gees dalam membuat karya. Hal ini bisa dilihat dari notasi nada dari lagu yang diciptakannya.

Selain itu ada juga penyanyi Solo lain yang mengadaptasi genre disco andalan The Bee Gees seperti Chrisye yang kemudian menjadi hits dalam lagu Juwita.

3. Armada

armada band

Band terakhir yang disebut-sebut mirip dengan The Bee Gees adalah Armada. Terkenal dengan musiknya yang bertempo pelan, beberapa lagu Armada juga mendapat pengaruh dari notasi musik The Bee Gees.

Inilah yang kemudian membuat para penggemar menyebutnya mirip dengan band asal Australia ini. Meski begitu memang tidak semua musik Armada mendapat pengaruh atau mirip dengan The Bee Gees.

Percampuran musik dari luar negeri tak bisa dipungkiri menjadi salah satu aspek yang membuat musik dalam negeri turut berkembang.

Diakui atau tidak, beberapa musisi menjadikan musisi luar negeri sebagai inspirasi dan panutan dalam membuat musik. Seperti beberapa musisi atau band dari Indonesia di atas yang bisa dibilang memiliki kemiripan dengan The Bee Gees.

Apakah salah satunya adalah favorit Anda?

Musik sore

SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa

Musik sore

Sejumlah musisi akan mengeluarkan berbagai rekaman eksklusif dalam format CD, kaset dan piringan hitam dengan jumlah terbatas.

Salah satu di antaranya adalah SORE, yang akan mengedarkan piringan hitam seven-inch berisi dua lagu. Di sisi A terdapat “Sssst…”, single yang menandakan kembalinya grup pop asal Jakarta tersebut, setelah beberapa tahun vakum dan mengalami perombakan formasi.

Sedangkan di sisi B, SORE mempersembahkan interpretasi mereka terhadap “Jawab Nurani” milik Transs, grup fusion yang dibentuk Fariz RM dan juga beranggotakan Erwin Gutawa pada bas.

Transs didirikan dengan misi “pembaharuan musik Indonesia dalam warna, personalitas, dan gaya,” sebagaimana disebutkan pada 1981 dalam sampul Hotel San Vincente, satu-satunya album yang dikeluarkan oleh grup itu. Walau hanya melepas satu album, Transs membuka jalan bagi grup-grup fusion Indonesia lainnya, seperti Krakatau, Halmahera, serta Karimata yang berisi dua alumni Transs, yakni Erwin Gutawa dan almarhum drummer Uce Haryono.

Pada 2007, Hotel San Vincente juga terpilih sebagai salah satu dari 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia.

“Jawab Nurani” versi SORE sendiri sebenarnya bukan rekaman baru. Prosesnya dimulai sekitar 2008, dengan tujuan disumbangkan ke proyek kompilasi lagu-lagu Fariz RM yang dibawakan kembali oleh musisi-musisi yang lebih muda, atas prakarsa produser eksekutif Seno M. Hardjo.

“Mas Seno bilang ke David (Tarigan, saat masih menjabat sebagai A&R; Aksara Records, yang kini sudah tutup) untuk bikin suatu kompilasi. Ada White Shoes & The Couples Company dan band-band lain, untuk membawakan lagu-lagunya Fariz,” kata Firza Achmar “Ade” Paloh, vokalis dan gitaris SORE, pada Sabtu lalu. “White Shoes membawakan ‘Selangkah Ke Seberang’, kami membawakan ‘Jawab Nurani’.”

Ditanya mengenai alasan memilih lagu ciptaan Fariz RM dan keyboardist Djundi Karjadi tersebut diantara semua karya Fariz RM yang ada, jawaban Ade sederhana. “Karena kami suka! Dan memang yang paling SORE, sebenarnya. Karena SORE, mau nggak mau, punya influence yang sama dengan Fariz RM: Gino Vannelli. Jadi Fariz RM sangat Gino Vannelli, SORE berasal dari Gino Vannelli juga,” katanya.

Sayangnya, proyek kompilasi itu terhenti di tengah jalan. “Nggak tahu bagaimana, nggak ada lagi proyek itu. Sudah hampir empat tahun, terdiami saja. Terus David deal dengan Mas Seno, dan akhirnya Mas Seno sama Fariz OK,” kata Ade. “Itu susah banget, deal-nya saja hampir setahun sendiri. Akhirnya dia bilang, ‘OK, boleh dirilis di 7” itu.’ ”

Maka setelah penantian panjang, akhirnya SORE bisa mempersembahkan “Jawab Nurani” versi mereka. Sekilas, aransemen SORE tidak terlalu jauh berbeda dibanding Transs, terutama dari segi temponya yang cepat. Namun kalau dibandingkan, ada beberapa perubahan signifikan, seperti menghilangkan solo keyboard Transs yang rumit dan menggantikannya dengan isian lead guitar yang lebih sederhana, serta memberi warna musik Latin lewat perkusi yang dimainkan oleh musisi tamu Belanegara Abimanyu Putra.

“Tadinya gue ingin lagu ini justru temponya lambat, dengan maksud biar melankolisnya dapat,” kata Gusti Pramudya Dwi Mulya alias Bemby, drummer SORE. “Tapi tahu-tahunya anak-anak sudah merekam dengan tempo yang cepat. Ya sudah, akhirnya gue buat cara main drumnya nggak gampang, walau tetap kedengaran rata-rata saja [tertawa].” “Itu lumayan paling lama dalam sistem produksinya,” kata Ade mengenai proses rekamannya. “Banyak banget perkusi, Abe main perkusi. Benar-benar paling wah, lah.”

Selain itu, “Jawab Nurani” juga punya nilai lebih bagi penggemar lama SORE. Ini merupakan salah satu lagu terakhir yang direkam bersama keyboardist Ramondo Gascaro dan multi-instrumentalist Dono Firman Nugroho, dua mantan anggota Sore yang mengundurkan diri pada 2012. Adalah Mondo yang mengisi vokal utama di bait-bait “Jawab Nurani”, sebelum Ade menyumbang suaranya di bagian refrain.

“Masih ada influence Mondo di situ, bisa terdengar banget sentuhan Mondo dan Dono di situ. Bisa dibilang think tank-nya mereka berdua,” kata Ade. “Jadi lumayan bisa jadi treasure buat SORE, bisa kilas balik. Pernah punya sound seperti itu dan membawakan lagunya Fariz RM. Kehormatan banget dibolehkan sama dia!”

Piringan hitam 7” Sore berisi “Jawab Nurani” dan “Sssst…” ini hanya dicetak 300 keping yang akan mulai dijual melalui dua lokasi penyelenggaraan acara Record Store Day di Jakarta. Pada Sabtu di bekas toko Duty Free Kemang akan dijual 50 kopi, lalu pada hari Minggu akan dijual 150 keping di toko Hey Folks!, dan piringan hitam yang tersisa akan diedarkan oleh Demajors.

SORE juga akan memeriahkan Record Store Day dengan tampil di Hey Folks! pada hari Minggu, tapi jangan terlalu berharap mereka akan memainkan “Jawab Nurani”. “Nggak, susah banget, gila! Pasti susah! Belum latihan juga,” kata Ade. “Kayaknya kalau dibawakan secara sederhana, bisa. Tapi untuk yang seperti di situ, nggak mungkin. Susah. Nanti mungkin belajar lagi sama Krisna (Prameswara, live keyboardist SORE). Belum siap untuk bawakan yang sama dengan itu.”

Saras

Aimee Saras: The Lady Who Swings

SarasSaras memberikan kesan baru pada musik genre jazz swing. Ia yakin bahwa ia harus menampilkan musik yang berdasarkan karakter dan kesukaannya.

“Saya tidak merasa membuat musik itu adalah suatu persaingan. Ketika membuat lagu, saya menulis saja dan menyerahkan produksi musik sepenuhnya ke produser saya, Aghi Narottama, yang sudah tahu karakter saya. Ini karakter saya, dan menurut saya ini menjadi salah satu faktor untuk bisa menghadapi persaingan,” ujarnya setelah peluncuran single pertamanya, “To New York”, di Black Studio, Panglima Polim, Jakarta Selatan, pada 17 Februari lalu.

Sebenarnya Saras sudah pernah tampil di Java Jazz 2013 dengan konsep Aimee Saras Goes Swing, membawakan jazz swing yang berhasil menarik perhatian para pengunjung untuk menonton aksi panggung yang atraktif dan kekuatan vokalnya. Momen tersebut juga menjadi penampilan ‘resmi’ dirinya sebagai penyanyi jazz swing, meskipun belum memiliki materi sendiri.

Sekitar tahun 2013, Saras mulai serius untuk menjalani mimpinya sebagai penyanyi, dan dalam waktu sekitar enam bulan akhirnya Saras dan timnya memberanikan diri untuk meluncurkan single pertama sekaligus memperkenalkan label Rooftop Sound, di mana Aghi termasuk sebagai salah satu pemiliknya. Aghi mengakui bahwa ia membebaskan Saras untuk mengikuti jalur musik yang ia cintai dan Aghi pun ikut terjun untuk membantunya.

“Kami biasanya mengerjakan music scoring untuk film, dan kini Aimee Saras adalah proyek perdana kami. Di sini kami sengaja memperkenalkan satu single dulu, yang sudah bisa dibeli di iTunes seharga Rp 5000. Lagu-lagu akan kami keluarkan secara bertahap, mungkin setiap dua minggu sekali. Nanti pada akhirnya baru album akan kami keluarkan,” jelas Aghi saat konferensi pers yang turut diramaikan oleh Joko Anwar sebagai sahabat sekaligus menunjukkan penampilan perdananya sebagai MC acara.

Mengenai “To New York” sebagai lagu perkenalan, Saras menjelaskan maksudnya. “Single ini seperti surat cinta saya kepada kota yang telah memberikan jasa besar pada hidup saya. Tumbuh dewasa, menekuni ilmu teater hingga menemukan jalan hidup sebagai pekerja seni.

Inti dari lagu ini sendiri adalah pesan bahwa jangan takut untuk mengambil kesempatan dan jatuh cinta lagi,” tambah perempuan alumni City University of New York, Hunter College dan berbagai workshop teater pada Marymount Manhattan College ini.

Saat ini Saras aktif memandu acara The Lady Who Swings dalam konsep storytelling yang menarik di radio Hard Rock FM Jakarta dan menurutnya, albumnya nanti juga akan mengalir seperti storytelling. Lalu apakah bernyanyi menjadi puncak dalam berkarier? Ia menjawab dengan lantang, “This is my biggest obsession!

Musik sudah di dalam darah daging saya, tetapi memang memulai dari teater musikal karena penjiwaannya dan sangat ekspresif. Akhirnya I found my ‘home’, blissful for being able to sing the kind of music I love, but my heart will always be for musical theater. Jika memang ada momen yang pas dan produksi yang tepat, akan kunodai lagi panggung teater musikalnya!”

one direction

Harry Styles Anggap One Direction Lebih Populer dari The Beatles

one directionHarry Styles mencoba membandingkan beberapa aspek dalam grup musik dimana ia menjadi anggotanya dan kini sedang menikmati masa-masa puncak ketenaran, One Direction, dengan legenda musik lintas generasi, The Beatles.

Meski dalam perbandingan itu ia menyimpulkan bahwa One Direction lebih populer dari The Beatles, penyanyi dari grup pop pelantun “Best Song Ever” ini menekankan bahwa ia tak punya tendensi untuk menyejajarkan musikalitas The Beatles dengan One Direction.

“Kami semua duduk dan menyaksikan film kedatangan The Beatles ke Amerika. Dan, sejujurnya, itu sama seperti kami. Melangkah keluar dari pesawat, gadis-gadis, kegilaan. Itu benar-benar sama dengan yang kami alami saat datang kesini – hanya 50 tahun lebih awal,” ujarnya kepada majalah Top Of The Pops.

Ia lalu mengimbuhkan,”Tapi tak ada dari kami yang berpikir bahwa kami ada di tingkat yang sama dengan kecerdasan musik mereka. Kami benar-benar tolol jika berpikir seperti itu. Tingkat kepopuleran (kami), mungkin bahkan lebih, namun kami tak dapat bersaing di sisi manapun dalam hal musik.”

Apakah berlebihan atau tidak pendapat Styles, namun badan industri musik internasional, IFPI telah menetapkan mereka sebagai Global Artists of 2013 – sebuah penghargaan yang menggunakan tingkat penjualan dan stream sebagai parameternya, yang artinya menempatkan One Direction sebagai artis rekaman paling populer di tahun 2013.

Kiprah kepopuleran mereka di tahun kemarin memang tak terbantahkan mengingat album ketiga One Direction, Midnight Memories menjadi jawara di tangga lagu Billboard Amerika tahun lalu, sekaligus membuat mereka menjadi kelompok musik pertama dengan debut album di puncak Billboard pada 3 album pertamanya.