Berita Musik Indonesia

Musik sore

SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa

Musik sore

Sejumlah musisi akan mengeluarkan berbagai rekaman eksklusif dalam format CD, kaset dan piringan hitam dengan jumlah terbatas.

Salah satu di antaranya adalah SORE, yang akan mengedarkan piringan hitam seven-inch berisi dua lagu. Di sisi A terdapat “Sssst…”, single yang menandakan kembalinya grup pop asal Jakarta tersebut, setelah beberapa tahun vakum dan mengalami perombakan formasi.

Sedangkan di sisi B, SORE mempersembahkan interpretasi mereka terhadap “Jawab Nurani” milik Transs, grup fusion yang dibentuk Fariz RM dan juga beranggotakan Erwin Gutawa pada bas.

Transs didirikan dengan misi “pembaharuan musik Indonesia dalam warna, personalitas, dan gaya,” sebagaimana disebutkan pada 1981 dalam sampul Hotel San Vincente, satu-satunya album yang dikeluarkan oleh grup itu. Walau hanya melepas satu album, Transs membuka jalan bagi grup-grup fusion Indonesia lainnya, seperti Krakatau, Halmahera, serta Karimata yang berisi dua alumni Transs, yakni Erwin Gutawa dan almarhum drummer Uce Haryono.

Pada 2007, Hotel San Vincente juga terpilih sebagai salah satu dari 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia.

“Jawab Nurani” versi SORE sendiri sebenarnya bukan rekaman baru. Prosesnya dimulai sekitar 2008, dengan tujuan disumbangkan ke proyek kompilasi lagu-lagu Fariz RM yang dibawakan kembali oleh musisi-musisi yang lebih muda, atas prakarsa produser eksekutif Seno M. Hardjo.

“Mas Seno bilang ke David (Tarigan, saat masih menjabat sebagai A&R; Aksara Records, yang kini sudah tutup) untuk bikin suatu kompilasi. Ada White Shoes & The Couples Company dan band-band lain, untuk membawakan lagu-lagunya Fariz,” kata Firza Achmar “Ade” Paloh, vokalis dan gitaris SORE, pada Sabtu lalu. “White Shoes membawakan ‘Selangkah Ke Seberang’, kami membawakan ‘Jawab Nurani’.”

Ditanya mengenai alasan memilih lagu ciptaan Fariz RM dan keyboardist Djundi Karjadi tersebut diantara semua karya Fariz RM yang ada, jawaban Ade sederhana. “Karena kami suka! Dan memang yang paling SORE, sebenarnya. Karena SORE, mau nggak mau, punya influence yang sama dengan Fariz RM: Gino Vannelli. Jadi Fariz RM sangat Gino Vannelli, SORE berasal dari Gino Vannelli juga,” katanya.

Sayangnya, proyek kompilasi itu terhenti di tengah jalan. “Nggak tahu bagaimana, nggak ada lagi proyek itu. Sudah hampir empat tahun, terdiami saja. Terus David deal dengan Mas Seno, dan akhirnya Mas Seno sama Fariz OK,” kata Ade. “Itu susah banget, deal-nya saja hampir setahun sendiri. Akhirnya dia bilang, ‘OK, boleh dirilis di 7” itu.’ ”

Maka setelah penantian panjang, akhirnya SORE bisa mempersembahkan “Jawab Nurani” versi mereka. Sekilas, aransemen SORE tidak terlalu jauh berbeda dibanding Transs, terutama dari segi temponya yang cepat. Namun kalau dibandingkan, ada beberapa perubahan signifikan, seperti menghilangkan solo keyboard Transs yang rumit dan menggantikannya dengan isian lead guitar yang lebih sederhana, serta memberi warna musik Latin lewat perkusi yang dimainkan oleh musisi tamu Belanegara Abimanyu Putra.

“Tadinya gue ingin lagu ini justru temponya lambat, dengan maksud biar melankolisnya dapat,” kata Gusti Pramudya Dwi Mulya alias Bemby, drummer SORE. “Tapi tahu-tahunya anak-anak sudah merekam dengan tempo yang cepat. Ya sudah, akhirnya gue buat cara main drumnya nggak gampang, walau tetap kedengaran rata-rata saja [tertawa].” “Itu lumayan paling lama dalam sistem produksinya,” kata Ade mengenai proses rekamannya. “Banyak banget perkusi, Abe main perkusi. Benar-benar paling wah, lah.”

Selain itu, “Jawab Nurani” juga punya nilai lebih bagi penggemar lama SORE. Ini merupakan salah satu lagu terakhir yang direkam bersama keyboardist Ramondo Gascaro dan multi-instrumentalist Dono Firman Nugroho, dua mantan anggota Sore yang mengundurkan diri pada 2012. Adalah Mondo yang mengisi vokal utama di bait-bait “Jawab Nurani”, sebelum Ade menyumbang suaranya di bagian refrain.

“Masih ada influence Mondo di situ, bisa terdengar banget sentuhan Mondo dan Dono di situ. Bisa dibilang think tank-nya mereka berdua,” kata Ade. “Jadi lumayan bisa jadi treasure buat SORE, bisa kilas balik. Pernah punya sound seperti itu dan membawakan lagunya Fariz RM. Kehormatan banget dibolehkan sama dia!”

Piringan hitam 7” Sore berisi “Jawab Nurani” dan “Sssst…” ini hanya dicetak 300 keping yang akan mulai dijual melalui dua lokasi penyelenggaraan acara Record Store Day di Jakarta. Pada Sabtu di bekas toko Duty Free Kemang akan dijual 50 kopi, lalu pada hari Minggu akan dijual 150 keping di toko Hey Folks!, dan piringan hitam yang tersisa akan diedarkan oleh Demajors.

SORE juga akan memeriahkan Record Store Day dengan tampil di Hey Folks! pada hari Minggu, tapi jangan terlalu berharap mereka akan memainkan “Jawab Nurani”. “Nggak, susah banget, gila! Pasti susah! Belum latihan juga,” kata Ade. “Kayaknya kalau dibawakan secara sederhana, bisa. Tapi untuk yang seperti di situ, nggak mungkin. Susah. Nanti mungkin belajar lagi sama Krisna (Prameswara, live keyboardist SORE). Belum siap untuk bawakan yang sama dengan itu.”

Saras

Aimee Saras: The Lady Who Swings

SarasSaras memberikan kesan baru pada musik genre jazz swing. Ia yakin bahwa ia harus menampilkan musik yang berdasarkan karakter dan kesukaannya.

“Saya tidak merasa membuat musik itu adalah suatu persaingan. Ketika membuat lagu, saya menulis saja dan menyerahkan produksi musik sepenuhnya ke produser saya, Aghi Narottama, yang sudah tahu karakter saya. Ini karakter saya, dan menurut saya ini menjadi salah satu faktor untuk bisa menghadapi persaingan,” ujarnya setelah peluncuran single pertamanya, “To New York”, di Black Studio, Panglima Polim, Jakarta Selatan, pada 17 Februari lalu.

Sebenarnya Saras sudah pernah tampil di Java Jazz 2013 dengan konsep Aimee Saras Goes Swing, membawakan jazz swing yang berhasil menarik perhatian para pengunjung untuk menonton aksi panggung yang atraktif dan kekuatan vokalnya. Momen tersebut juga menjadi penampilan ‘resmi’ dirinya sebagai penyanyi jazz swing, meskipun belum memiliki materi sendiri.

Sekitar tahun 2013, Saras mulai serius untuk menjalani mimpinya sebagai penyanyi, dan dalam waktu sekitar enam bulan akhirnya Saras dan timnya memberanikan diri untuk meluncurkan single pertama sekaligus memperkenalkan label Rooftop Sound, di mana Aghi termasuk sebagai salah satu pemiliknya. Aghi mengakui bahwa ia membebaskan Saras untuk mengikuti jalur musik yang ia cintai dan Aghi pun ikut terjun untuk membantunya.

“Kami biasanya mengerjakan music scoring untuk film, dan kini Aimee Saras adalah proyek perdana kami. Di sini kami sengaja memperkenalkan satu single dulu, yang sudah bisa dibeli di iTunes seharga Rp 5000. Lagu-lagu akan kami keluarkan secara bertahap, mungkin setiap dua minggu sekali. Nanti pada akhirnya baru album akan kami keluarkan,” jelas Aghi saat konferensi pers yang turut diramaikan oleh Joko Anwar sebagai sahabat sekaligus menunjukkan penampilan perdananya sebagai MC acara.

Mengenai “To New York” sebagai lagu perkenalan, Saras menjelaskan maksudnya. “Single ini seperti surat cinta saya kepada kota yang telah memberikan jasa besar pada hidup saya. Tumbuh dewasa, menekuni ilmu teater hingga menemukan jalan hidup sebagai pekerja seni.

Inti dari lagu ini sendiri adalah pesan bahwa jangan takut untuk mengambil kesempatan dan jatuh cinta lagi,” tambah perempuan alumni City University of New York, Hunter College dan berbagai workshop teater pada Marymount Manhattan College ini.

Saat ini Saras aktif memandu acara The Lady Who Swings dalam konsep storytelling yang menarik di radio Hard Rock FM Jakarta dan menurutnya, albumnya nanti juga akan mengalir seperti storytelling. Lalu apakah bernyanyi menjadi puncak dalam berkarier? Ia menjawab dengan lantang, “This is my biggest obsession!

Musik sudah di dalam darah daging saya, tetapi memang memulai dari teater musikal karena penjiwaannya dan sangat ekspresif. Akhirnya I found my ‘home’, blissful for being able to sing the kind of music I love, but my heart will always be for musical theater. Jika memang ada momen yang pas dan produksi yang tepat, akan kunodai lagi panggung teater musikalnya!”